ADMIRAL #2




Chapter 2 (Ketenangan Sebelum Badai)

Aku Berlari Ke Pesisir Pantai Dan Mengejar Topi Ayahku. Aku Berlari Sambil Memikirkan Apa Benar Itu Topi Ayahku.
Kaki Ku Tidak Merasa Sakit Ketika Ku-Tapaki, Aku. Aku Kibaskan Ranting-Ranting Pohon Yang Menghalangi Pandanganku.
Orang-Orang Yang Didepanku Aku Dorong, Seolah Mereka Menghalangiku.
Tiba Di Pesisir Pantai, Aku Lihat Topi Itu Benar-Benar Milik Ayah ku.
Aku Ingin Mengambilnya Tapi Ombak Seperti Menarik Topi Itu Semakin Jauh. Aku Loncat Ke-Atas Sekoci Entah Milik Siapa.
Sekoci Itu Aku Dorong Sampai Menyentuh Laut. Aku Ambil Tongkat Dayung Dan Mulai Mendayung Mengejar Topi Itu.

"ABRAHAM!" Teriak Paman Ku Dari Pantai

Aku Terus Mendayung Tidak Peduli Dengan Pamanku. Semakin Marah Perasaan ku Ketika Aku Mulai Lelah.
Tanganku Mulai Pegal, Tapi Aku Tidak Berhenti. Semakin Cepat Aku Mulai Dekat Dengan Topi Ayahku.
Tiba-Tiba Ada Ombak Besar Dari Arah Laut. Aku Melihat Itu Dan Segera Mendekati Topi Itu.

"Sedikit Lagi, Sedikit Lagi!" Ucapku Kelelahan

Topi Itu Sudah Dekat Dan Bisa Kuraih. Saat Kuambil Dan Kulihat.

"Ini Topi Ayahku" Ucapku

Aku Menoleh Ke Kiri Dan Ombak Besar Itu Menghantamku Dan Memutar Balikkan Kapalku.
Genggaman Ku Semakin Erat, Dan Aku Berusaha Untuk Tidak Melepaskannya.
Aku Berusaha Mengikatnya Tapi Aku Tidak Bisa. Ombak Ini Terlalu Kuat.
Lama-Kelamaan Aku Tak Sadarkan Diri.

Abraham! Abraham!

Suara Itu Aku Dengar Sangat Pelan Dan Sedikit-Sedikit Mulai Keras.
Aku Membuka Mataku Dan Melihat Langit Yang Bersinar Oleh Bintang,
Wajah Paman Adam Yang Buram Mulai Terlihat Jelas Dimataku.
Digenggamanku Masih Ada Topi Ayahku, Aku Bersyukur Topi Ini Tidak Hanyut.

"Apa Kau Gila Ke Tengah Laut Sendirian?!" Tanya Paman Ku Dengan Marah

"Aku Ingin Mengambil Topi Ayahku" Jawabku Kelelahan

Pamanku Melihat Topi yang ku Genggam Dan Terlihat Sedih.

"Ayo Kita Ke Rumah Ku, Aku Akan Lihat Kondisimu" Ucap Pamanku

"Tidak Paman, Aku Mau Langsung Pulang Saja." Ucapku

"Aku Mengerti Perasaanmu, Sekarang Jika Ada Apa-Apa Kau Beritahu Aku." Ucap Pamanku

Aku Berjalan Ke Arah Rumah ku, Aku Bingung. Apakah Ayahku Baik-Baik Saja?
Aku Tidak Mau Berfikir Ayahku Sudah Tiada. Aku Terlihat Seperti Orang Bodoh Di Desa.
Berpakaian Basah Dimalam Hari.
Aku Kunci Rumahku Dan Aku Menangis Saat Melihat Foto Kedua Orang Tua Ku.
Semua Ini Seperti Mimpi, Aku Tidak Percaya Semua Ini Terjadi.

Di Pagi Harinya Pamanku Datang Bersama Keluarganya Ke Rumahku.
Mereka Mencoba Menghiburku. Tak Lama Kemudian Ada Jenggot Beku Didepan Rumah.

"Kau Akan Menjadi Anak Yang Kuat, Abraham" Ucapnya

Setelah Itu Dia Berdiri Dan Menepuk Paman Adam.
Paman Adam Dan Jenggot Beku Keluar Dan Membicarakan Sesuatu.
Pamanku Terlihat Sangat Khawatir.

Pamanku Masuk Ke Dalam Rumahku Lagi Dan Menyuruh Istri Dan Anak-Anaknya Pulang.
Aku Bingung Apa Yang Terjadi.

"Kemasi Barang-Barangmu Sekarang Abraham, Kita Akan Pergi Dari Sini." Ucap Pamanku

Aku Semakin Bingung Apa Yang Terjadi

"Kemana?" Tanyaku Bingung

"Sudah, Cepat Kemasi Barang-Barangmu. Kita Harus Pergi Dari Sini Abraham." Ucap Pamanku Dengan Tatapan Serius

"Kenapa Kita Harus Pergi?" Tanyaku

"Aku akan Jelaskan Diperjalanan." Ucap Pamanku

Aku Kemasi Barang-Barangku Dan Keluar Dari Rumahku.

"Sudah Siap? Tunggu Aku Di Dekat Bukit." Ucap Pamanku

Aku Berjalan Ke Arah Bukit, Sementara Pamanku Berjalan Ke Arah Rumahnya.
Kupakai Topi Ayahku Dan Sangat Pas Dikepalaku.
Di Bukit Aku Duduk Sambil Melihat Pemandangan Pantai.
Tidak Seperti Biasanya Aku Melihat Banyak Sekali Kapal Memakai Bendera Jangkar Di Tengah Laut.
Tak Lama Kemudian Aku Melihat Kapal - Kapal Itu Bergerak.

Suara Meriam Terdengar Dari Kejauhan, Aku Keluarkan Teropong Dari Kantongku.
Kulihat Ada Kapal Dengan Bendera Hitam Dan Ditengahnya Ada Tengkorak.
Tak Salah Lagi Itu Adalah Perompak.

"Abraham! Ayo Kita Berangkat." Teriak Pamanku Dari Bawah Bukit.

Aku Segera Turun Dari Batu Yang Kutapaki.

"Disana Ada Bajak Laut Paman! Apa Yang Sebenarnya Terjadi?" Tanyaku Sambil Berjalan

"Sudah Ayo Ikuti Paman" Ucap Pamanku Sambil Berlari.

Kami Berlari Lumayan Jauh Dari Desa. Semakin Jauh Banyak Sekali Pohon Di Sekelilingku.
Ada Batu Yang Sangat Besar Dan Ada Retakan Ditengahnya, Pamanku Berhenti.
Pamanku Mengeluarkan Pedangnya Yang Sangat Mengkilat Dan Tajam.
Ditancapkan Pedang Itu Di Retakan Batu.
Tanah Pun Bergetar, Batu Besar Itu Terbelah.
Didalam Tanah Itu Ada Tangga Dari Kayu Yang Sudah Rusak.

"Ayo Masuk Adam" Ucap Pamanku

Aku Dan Pamanku Masuk Ke Dalam Dan Menuruni Tangga.

"Pelan-Pelan, Perhatikan Langkahmu." Ucap Pamanku.

"Tempat Apa Ini?" Tanyaku

Semakin Menurun Aku Tidak Bisa Melihat Apa-Apa.
Pamanku Menyalakan Obor. Dia Maju Ke Depanku Dan Menunjukkan Jalan.
Di Tangga Yang Terakhir Pamanku Menyalakan Obor-Obor Di Goa.
Tak Kusangka Ternyata Ada Kapal Besar Di Goa Ini.

"Kapal Ini Kupakai Saat Aku Masih Jadi Bagian Dari Jangkar" Ucap Pamanku.

"Bagian Dari Jangkar?" Tanyaku

"Di Pulau Ini Ada Tentara Yang Bernama Jangkar. Sama Seperti Jangkar Yang Memberhentikan Kapal.
Tentara-Tentara Jangkar Memberhentikan Adanya Serangan Dari Pulau Ini" Jawab Pamanku Sambil Mempersiapkan Kapal.

"Apa Pamanku Termasuk Bagian Dari Ini?" Tanyaku Lagi.

"Ya Begitulah, Dia Yang Memimpin Tentara Jangkar Di Desa Ini." Jawab Pamanku

"Oke Naiklah Ke Kapal Ini." Ucap Pamanku

Aku Menaruh Tas Yang Kubawa Dan Berjalan Menuju Kapal.
Kayu-Kayu Yang Masih Terlihat Baik Menunjukkan Kualitas Kapal Ini.

"Paman Punya Kapal Seperti Ini, Dan Baru Menunjukkannya Sekarang?" Tanyaku

Pamanku Masuk Ke Sebuah Ruangan Di Kapal. Aku Masuk Ke Ruangan Itu Dan Ada Lemari Besar Di Ujung Ruangan.
Pamanku Membuka Lemari Itu, Dan Isi Lemari Itu Ada Banyak Macam Senjata Disusun Rapih.
Pamanku Mengambil Sebuah Pedang Dan Memberikannya Kepadaku.

"Tunjukkan Aku Caramu Bertarung" Ucap Pamanku

"Apa? Bagaimana Aku Bisa Tau? Ini Baru-" Ucapku Terpotong Melihat Pamanku Mengayunkan Pedangnya Ke Kepalaku.

CTANG!! Bunyi Pedang Yang Sangat Kencang. Tak Kusangka Pedang Pamanku Bisa Aku Tangkis Dengan Pedangku.

"Wow Pelan-Pelan Kawan" Ucapku Kesal

Pamanku Menarik Pedangnya Dan Menyerangku Lagi. Kali Ini Tanpa Henti.
Semua Serangan Pamanku Berhasil Aku Tangkis.

"Bagus Sekali Adam."Ucap Pamanku

Dia Berhenti Dan Melihat Ke Atas. Aku Mendengar Suara Orang-Orang Berlari Sangat Ramai.

"Baiklah Sekarang Kita Harus Pergi." Ucap Pamanku Sambil Berjalan Ke Atas Kapal.

Pamanku Menarik Tuas Yang Ada Di Dekat Kemudi Kapal, Tuas Itu Ternyata Untuk Menarik Jangkar.

"Wow Kapal Ini Keren Sekali" Ucapku

"Bukan Hanya Kapal Ini" Ucap Pamanku

Pamanku Turun Dari Kapal Dan Menginjak Batu Yang Ada Di Dekat Kapal. Dibawah Kapal Ini Ada Sebuah Alat Untuk Mendorong Kapal Ini Ke Luar.
Kapal Bergerak Maju Sangat Berisik.

Kapal Pamanku Keluar Dari Goa. Aku Melihat Cahaya Dari Gelapnya Goa Ini.
Aku Berjalan Ke Atas Kapal. Dan Melihat Laut Yang Cerah Menandakan Petualanganku Akan Dimulai Ketika Aku Keluar Dari Goa Ini.

"Ini Akan Menjadi Perjalanan Yang Panjang" Ucap Pamanku.

Popular posts from this blog

Ingin Membangun Ketangguhan Mental yang Tidak Terkalahkan? Inilah 5 Cara Yang Sangat Efektif

4 Hal Yang Harus Kamu Ketahui Tentang Google BERT **BLOGGER HARUS BACA**

Cara Menulis Manifestasi